Perdebatan tentang body positivity kian ramai, terutama di media sosial yang membentuk persepsi tentang tubuh.
Gerakan ini awalnya hadir sebagai bentuk perlawanan terhadap stigma dan diskriminasi berbasis ukuran tubuh, sekaligus mendorong penerimaan diri tanpa syarat. Namun dalam perkembangannya, muncul beragam pandangan kritis yang menilai bahwa pesan tersebut kerap disalahartikan atau diterapkan secara ekstrem.
Simak penjelasan lengkapnya Tren Influencer dalam berikut agar tidak salah memahami fakta yang beredar.
Mantan Influencer Bongkar Sisi Lain Gerakan Body Positivity
Jakarta – Mantan influencer body positivity, Gabriella Lascano, mengungkap perubahan besar dalam pandangannya terhadap gerakan yang pernah ia dukung. Ia mengaku memutuskan meninggalkan komunitas tersebut setelah merasa pesan yang digaungkan justru mendorong gaya hidup tidak sehat.
Lascano memulai perjalanan di media sosial sejak 2010. Awalnya ia tidak berniat menjadi figur publik, namun dukungan dari sesama perempuan bertubuh plus size membuatnya aktif menyuarakan pesan mencintai diri sendiri tanpa memandang ukuran tubuh. Ia pun dikenal sebagai salah satu pendukung vokal gerakan tersebut.
Namun seiring waktu, ia mulai menyadari berat badannya terus meningkat hingga berdampak pada kesehariannya. Aktivitas yang dulu mudah dilakukan, seperti bepergian atau menikmati wahana hiburan, perlahan tak lagi bisa ia nikmati.
Titik Balik Dan Pergulatan Batin
Dalam pengakuannya, Gabriella Lascano menyebut tinggi badannya sekitar 152 cm dan beratnya pernah mendekati 180 kilogram. Ia mulai mempertanyakan apakah slogan “mencintai diri sendiri di ukuran berapa pun” justru menjadi pembenaran untuk mengabaikan kondisi kesehatannya, terlebih saat aktivitas sehari-hari terasa semakin berat.
Ia juga menilai diskusi di ruang digital tentang body positivity kian ekstrem. Menurutnya, sebagian komunitas bersikap keras terhadap isu penurunan berat badan dan olahraga, bahkan jika dilakukan demi alasan kesehatan, sehingga ia merasa ragu untuk menyuarakan pandangannya.
Pergulatannya memuncak ketika seorang teman sesama influencer body positivity meninggal dunia. Peristiwa itu menjadi momen refleksi yang membuatnya meninjau kembali prinsip yang selama ini ia dukung dan akhirnya memilih mengambil sikap berbeda.
Baca Juga: Influencer Saham Kena Denda Miliaran karena Promosi Menyesatkan
Kritik Terbuka Dan Konsekuensi Sosial
Pada 2023, Gabriella Lascano mengunggah video yang secara terbuka mengkritik sebagian praktik dalam gerakan body positivity. Ia menegaskan bahwa membicarakan kesehatan dan risiko medis bukanlah bentuk fatphobia, melainkan bagian dari kepedulian terhadap diri sendiri. Menurutnya, diskusi tentang tubuh seharusnya tidak menutup ruang bagi pertimbangan kesehatan.
Pernyataannya memicu respons beragam di media sosial. Ada yang memuji keberaniannya berbicara jujur, namun tidak sedikit pula yang menjauh dan menilai ia telah meninggalkan prinsip lama. Ia mengaku kehilangan dukungan dari sebagian komunitas, tetapi merasa lebih tenang setelah menyampaikan pandangannya secara terbuka.
Sejak keputusan itu, ia mulai menjalani pola hidup yang lebih sehat dan fokus pada perbaikan kondisi fisiknya. Ia menyebut berhasil menurunkan berat badan serta merasakan peningkatan energi dan kepercayaan diri. Baginya, perubahan tersebut menjadi langkah penting menuju kualitas hidup yang lebih baik.
Antara Penerimaan Diri Dan Kesadaran Kesehatan
Meski mengkritik arah gerakan yang dianggapnya terlalu radikal, Gabriella Lascano tidak sepenuhnya menolak konsep penerimaan tubuh. Ia tetap mendukung pesan mencintai diri sendiri, terutama di tengah tren seperti “SkinnyTok” yang mempromosikan standar tubuh sangat kurus dan dinilai juga bisa berdampak negatif.
Menurutnya, gerakan apa pun perlu tetap mengakui risiko kesehatan yang bisa muncul akibat obesitas. Mengakui hal tersebut, katanya, bukan berarti menghakimi, melainkan bentuk kepedulian terhadap kesejahteraan diri.
Baginya, body positivity seharusnya memberi kebebasan untuk mencintai tubuh sekaligus ruang untuk berubah demi kesehatan. Penerimaan diri dan kesadaran medis, menurutnya, harus berjalan beriringan tanpa
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari wolipop.detik.com
- Gambar Kedua dari wolipop.detik.com